Selasa, 15 April 2014

Cerita Pendek (Cerpen) : Tak Seindah Dulu

Saat matahari menampakkan wajahnya dengan ditemani embun pagi, saat itu pula senyumku mulai merekah. Entah mengapa saat aku mendapat pesan berisi ucapan selamat pagi dari seseorang yang pernah menghiasi hidupku atau bisa dibilang mantan kekasihku, aku merasa bahagia sampai aku bertanya dalam hati “tidak seperti biasanya aku merasakan bahagia seperti ini. Ada apa gerangan?”
Pagi itu aku berangkat sekolah dengan begitu bahagia dan dengan wajah yang berseri-seri. Aku tidak berhenti tersenyum sampai tiba di sekolah dan pada akhirnya ada seorang temanku yang menyadari perbedaanku, “hei Maya, kamu terlihat tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi? Jangan-jangan..?” sebelum ia meneruskan pembicaraannya aku langsung memotongnya, “aku memang sedikit berbeda hari ini, aku sedang merasakan bahagia yang luar biasa”. “Wow, kalau boleh tau apa sih yang membuatmu bahagia?”dengan wajah penasaran ia bertanya, “hmm, ada aja. Haha” jawabku dengan begitu ringan. Rika, dialah sahabatku yang selalu ingin tahu apa yang terjadi padaku.
“Tettt......” bel masuk pun berbunyi. Pelajaran yang dipelajari terlihat begitu membosankan untuk teman sekelasku, namun memasuki pelajaran kedua ternyata gurunya tidak ada masuk kelas, kesempatan itu digunakan untuk bermain-main. Aku hanya duduk tersenyum melihat tingkah teman-temanku, sampai pada akhirnya ada seseorang dari belakangku yang menyapaku, “hei” aku menoleh ke belakang dan ternyata itu Ardi, orang yang mengirim pesan di pagi tadi. Ya, dia memang teman sekelasku “hhhhei juga” jawabku dengan sedikit gugup. “Sendiri aja” jawabnya dibarengi senyuman tulusnya. “Nggak kok, Maya sama aku di sini. Gak lihat apa?” dengan sewotnya Rika menjawab. “Apaan sih kamu?” “heh, gak enak ya aku sampe gak dianggap di sini.” “Nih nih nih, ngomong aja sama pulpen! Orang aku ngajak ngomong sama Maya.” Jawab Ardi dengan kesal. “Ih, udah udah malah berantem kalian. Hmm Di, kamu kembali aja ya ke tempat duduk kamu, temen aku ini lagi sensitif” aku pun berbicara, “hmmm, yaudah. Aku tinggal ya” jawabnya “iya” aku pun tersenyum.

“May, si Ardi kok beda banget ya sama kamu? Jangan-jangan kamu pacaran lagi sama si Ardi?”  tanya Rika padaku. “Ih, apaan sih kamu? Ya enggak lah” jawabku dan aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku pagi tadi.
Setelah dia mendengarkan ceritaku, dia berkata “jangan-jangan kamu sama Ardi saling suka tuh. Ciee, cinta lama bersemi kembali”. Sesaat aku berpikir dan aku pun hanya bisa membalas ledekan itu dengan senyuman. “Tettttt.....” bel pulang berbunyi dengan kerasnya, wajah semua temanku begitu bahagia.
Semakin hari aku dan Ardi semakin dekat dan perasaan yang tidak biasa yang dulu pernah ada untuk Ardi menghampiriku kembali. Aku berpikir dengan sikap Ardi padaku sekarang dia juga memiliki perasaan yang sama.
Sepulang dari sekolah aku langsung merebahkan badanku di atas tempat tidurku, entahlah hari itu aku merasa begitu lelah dan aku heran dengan sikap Ardi yang sedikit berbeda padaku. Aku pun mengambil handphone karena aku ingin membuka akun facebookku, aku membuka facebook tidak lain hanya untuk melihat profil Ardi. Ternyata ada sebuah status yang bertuliskan “???? atau ????? yang mana ya?”. Setelah melihat status itu aku bertanya-tanya dalam hati, “sebenarnya apa maksud dari semua itu?”. Ingin aku bertanya pada Ardi, tapi aku tidak memiliki keberanian yang besar.
“Fitri”, tiba-tiba aku teringat pada Fitri. Fitri adalah temanku dari kecil, bisa dibilang kita mempunyai hubungan yang begitu baik. Aku tau saat ini Ardi tengah dekat dengan Fitri, sikap Ardi pada Fitri pun begitu ramah tidak seperti biasanya. Namun saat itu aku belum menyadari dengan tanda tanya yang ada pada status Ardi.
Satu minggu kemudian aku kembali teringat pada status Ardi, aku masih bingung dengan itu dan aku berusaha untuk menemukan arti dari status itu. Sampai aku tersadar, ternyata empat tanda tanya itu adalah aku (Maya), dan lima tanda tanya itu tak lain adalah Fitri. Jadi maksud dari status itu, Ardi bingung akan memilih aku atau Fitri. Aku bisa mengira itu Fitri karena mereka yang semakin dekat, semua sudah terlihat jelas bahwa Ardi menyukai Fitri.
Sejak aku mengetahui hal itu, hubunganku dengan Ardi dan Fitri tidak begitu baik, aku sedikit cuek pada Fitri. Tapi entahlah, Fitri malah mengabaikanku begitu pun Ardi. Mereka semakin dekat dan hatiku semakin terluka karena terbakar api cemburu.
Saat aku sedang bercanda dengan adik kelasku, aku berlari dan terus berlari tanpa sadar aku berhenti di antara Ardi dan Fitri. Sesaat pikiranku melayang, senyumku pun ikut memudar. Tetapi setelah aku sadar, aku pun berusaha untuk tersenyum kembali agar aku bisa menutupi kesedihanku. Namun hati ini tidak bisa aku bohongi lagi, aku menangis di balik senyum palsu. Itulah hal yang tidak pernah aku inginkan terjadi.
Pada suatu hari aku menceritakan apa yang terjadi padaku pada seorang kakak kelas yang sudah aku anggap seperti kakakku sediri. “Hei, hidup kamu masih panjang, kamu jangan menyerah hanya karena patah hati. Percayalah, masih banyak orang yang menyayangimu dengan tulus, termasuk aku”. Kalimat itu yang selalu terlontar dari mulutnya, dan kalimat itulah yang membuat aku selalu tegar. Kak Rama, dialah yang selalu menemaniku, Bahunya yang selalu siap menampung air mataku dan dia selalu bisa menghiburku.
Kejadian yang menimpa diriku telah merubahku menjadi sosok yang pemurung, hari-hariku selalu dipenuhi dengan kesedihan, tapi kak Rama selalu setia menemaniku dan dengan sabar ia menghadapiku. Air mataku selalu menetes jika aku mengingat sesosok Ardi.
“Pagi ini begitu cerah, begitu indah. Namun mengapa hatiku belum bisa secerah dan seindah ini? Ardi.” ujarku dalam hati. Bibirku tersenyum, namun tetesan air mata kembali membasahi pipiku. Aku mencoba menghapus air mataku karena aku tidak ingin semua orang tahu aku sedang bersedih.
Pagi itu aku berjalan menuju sekolah ditemani semilir angin yang sejuk dan senyuman sang mentari yang mungkin bisa membuat semua orang bersemangat, tapi tidak untukku.
Sampai tiba di sekolah aku memeluk sahabatku dan aku menangis di pelukannya. Entahlah, saat itu aku benar- benar tidak berdaya menahan sakitnya patah hati.
“Maya, kamu kenapa?” dengan cemas ia bertanya.
“Ardi ka, Ardi” jawabku dengan terus menangis.
“Kenapa? Ada apa dengan Ardi?” ia semakin cemas.
“Teganya ia lakukan ini padaku. Jika memang dia tidak menyukaiku, jika memang dia lebih memilih Fitri, mengapa dia seolah-olah memberikan keyakinan akan kembali padaku? Apa yang sebenarnya ia inginkan?” ucapku.
“hmm, sudahlah. Aku yakin dia menyukaimu tapi mungkin dia juga menyukai Fitri” jawabnya dengan nada meyakinkan.
“tapi ka ...”
“Lebih baik kamu hapus air matamu, tersenyumlah. Mana Maya yang selalu tegar? Mana Maya yang selalu bisa sabar? Apa kamu mau berubah jadi Maya yang lemah? Percayalah, masih ada orang yang jauh lebih menyayangimu.” Ucapnya dengan senyuman yang semakin meyakinkanku untuk selalu tegar. Saat itu juga aku melepaskan pelukanku dan menghapus air mataku, aku pun kembali tersenyum.
“Malam ini bintang bersinar begitu terang” ucapku dari balik jendela kamar. Aku memandangi bintang yang seolah-olah mereka tersenyum padaku sampai aku teringat pada Ardi, “Selamat malam. Bintang-bintang yang bersinar malam ini tidak seindah pancaran senyummu J”. Kembali aku membaca pesan yang Ardi kirimkan dua tahun yang lalu padaku.
Aku kembali memandangi bintang, dan sekarang aku teringat pada Fitri. “Teman baikku, ia selalu bisa memahamiku, namun mengapa saat ini ia tidak bisa memahamiku? Apa sekarang aku yang harus memahaminya? Mungkin iya.” Ujarku.
“Apakah aku masih pantas untuk menangisi mu yang hanya menjadikan aku sebagai pelarian, kamu yang datang di saat membutuhkan? Tapi, jika aku merelakanmu, apa aku bisa? Di, sampai kapanpun sayangku ini tidak akan pernah habis untukmu.” Aku bertanya-tanya dalam hati. “Relakan Ardi, aku harus bisa!” tekadku dalam hati.
Keesokkan harinya di waktu pulang sekolah. Aku pulang bersama Rika dan teman yang lain, dan tepat di depanku Ardi pulang bersama Fitri. Dari belakang aku tidak berhenti menyindir mereka karena aku sudah jengkel dengan sikap mereka yang tidak pernah menghargaiku. Kemudian Ardi berjalan duluan dan Fitri menoleh ke belakang, tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyum yang sinis.
Setibanya di rumah aku berpikir kembali. Untuk apa aku selalu menyindir mereka, untuk apa aku menampakkan rasa cemburuku? Toh, itu tidak membuat mereka menjadi berjauhan. Kembali aku meyakinkan diriku untuk merelakan Ardi “May, kamu harus bisa merelakan Ardi. Karena sampai kapanpun Ardi tidak akan pernah kembali padamu. Tak ada gunanya kamu selalu menunggu Ardi.” Aku berbicara pada diriku sendri di hadapan cermin.
Aku lelah dengan sandiwara itu dan akhirnya aku memutuskan untuk mengalah, merelakan Ardi untuk Fitri.
Aku mengirimkan sebuah pesan pada mereka, “Maafkan aku sudah membuat keadaan menjadi seperti ini. Ini semua salahku. Aku sayang kalian, teman baikku Jnamun ternyata sama sekali tidak ada balasan dari mereka.
Melihat kedekatan mereka aku selalu mencoba tegar, aku selalu mencoba untuk tetap tersenyum. Dan ternyata sedikit demi sedikit aku bisa merelakan Ardi, tapi aku merelakannya bukan untuk melupakannya. Karena sulit untuk melupakan orang yang pernah mewarnai hidupku. Sesaat aku selalu teringat pada masa laluku bersama Ardi, aku pikir cinta itu bersemi kembali untuk kebahagiaan dan keindahan, tapi ternyata cinta itu tidak seindah dulu. Dan aku sadar apa yang pernah kak Rama katakan “masih banyak orang yang menyayangimu dengan tulus, termasuk aku.” Memang kak Rama yang bisa menyayangiku dengan tulus. Lebih baik aku merelakan Ardi demi kebahagiaannya dan berusaha lebih mempedulikan orang yang juga mempedulikanku.
Aku mengirimkan sebuah pesan pada semua temanku, “Terimakasih atas apa yang pernah kalian lakukan padaku. Kalian yang buat aku tersenyum, tertawa, menangis, bahkan sakit hati, aku sangat berterimakasih. Karena semua itu ada semata-mata hanya untuk membuat aku semakin dewasa. Jangan pernah menyerah untuk menghadapi dunia ini. Love you, friends J
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar