Saat matahari menampakkan wajahnya dengan ditemani embun pagi, saat itu
pula senyumku mulai merekah. Entah mengapa saat aku mendapat pesan berisi
ucapan selamat pagi dari seseorang yang pernah menghiasi hidupku atau bisa
dibilang mantan kekasihku, aku merasa bahagia sampai aku bertanya dalam hati
“tidak seperti biasanya aku merasakan bahagia seperti ini. Ada apa gerangan?”
Pagi itu aku berangkat sekolah dengan begitu bahagia dan dengan wajah yang
berseri-seri. Aku tidak berhenti tersenyum sampai tiba di sekolah dan pada
akhirnya ada seorang temanku yang menyadari perbedaanku, “hei Maya, kamu
terlihat tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi? Jangan-jangan..?” sebelum ia
meneruskan pembicaraannya aku langsung memotongnya, “aku memang sedikit berbeda
hari ini, aku sedang merasakan bahagia yang luar biasa”. “Wow, kalau boleh tau
apa sih yang membuatmu bahagia?”dengan wajah penasaran ia bertanya, “hmm, ada
aja. Haha” jawabku dengan begitu ringan. Rika, dialah sahabatku yang selalu
ingin tahu apa yang terjadi padaku.
“Tettt......” bel masuk pun berbunyi. Pelajaran yang dipelajari terlihat
begitu membosankan untuk teman sekelasku, namun memasuki pelajaran kedua
ternyata gurunya tidak ada masuk kelas, kesempatan itu digunakan untuk
bermain-main. Aku hanya duduk tersenyum melihat tingkah teman-temanku, sampai
pada akhirnya ada seseorang dari belakangku yang menyapaku, “hei” aku menoleh
ke belakang dan ternyata itu Ardi, orang yang mengirim pesan di pagi tadi. Ya,
dia memang teman sekelasku “hhhhei juga” jawabku dengan sedikit gugup. “Sendiri
aja” jawabnya dibarengi senyuman tulusnya. “Nggak kok, Maya sama aku di sini.
Gak lihat apa?” dengan sewotnya Rika menjawab. “Apaan sih kamu?” “heh, gak enak
ya aku sampe gak dianggap di sini.” “Nih nih nih, ngomong aja sama pulpen!
Orang aku ngajak ngomong sama Maya.” Jawab Ardi dengan kesal. “Ih, udah udah
malah berantem kalian. Hmm Di, kamu kembali aja ya ke tempat duduk kamu, temen
aku ini lagi sensitif” aku pun berbicara, “hmmm, yaudah. Aku tinggal ya” jawabnya
“iya” aku pun tersenyum.
“May, si Ardi kok beda banget ya sama kamu? Jangan-jangan kamu pacaran
lagi sama si Ardi?” tanya Rika padaku.
“Ih, apaan sih kamu? Ya enggak lah” jawabku dan aku menceritakan apa yang
sebenarnya terjadi padaku pagi tadi.
Setelah dia mendengarkan ceritaku,
dia berkata “jangan-jangan kamu sama Ardi saling suka tuh. Ciee, cinta lama
bersemi kembali”. Sesaat aku berpikir dan aku pun hanya bisa membalas ledekan
itu dengan senyuman. “Tettttt.....” bel pulang berbunyi dengan kerasnya, wajah
semua temanku begitu bahagia.
Semakin hari aku dan Ardi semakin dekat dan perasaan yang tidak biasa yang
dulu pernah ada untuk Ardi menghampiriku kembali. Aku berpikir dengan sikap
Ardi padaku sekarang dia juga memiliki perasaan yang sama.
Sepulang dari sekolah aku langsung merebahkan badanku di atas tempat
tidurku, entahlah hari itu aku merasa begitu lelah dan aku heran dengan sikap
Ardi yang sedikit berbeda padaku. Aku pun mengambil handphone karena aku ingin membuka akun facebookku, aku membuka facebook
tidak lain hanya untuk melihat profil Ardi. Ternyata ada sebuah status yang
bertuliskan “???? atau ????? yang mana
ya?”. Setelah melihat status itu aku bertanya-tanya dalam hati, “sebenarnya
apa maksud dari semua itu?”. Ingin aku bertanya pada Ardi, tapi aku tidak
memiliki keberanian yang besar.
“Fitri”, tiba-tiba aku teringat pada Fitri. Fitri adalah temanku dari
kecil, bisa dibilang kita mempunyai hubungan yang begitu baik. Aku tau saat ini
Ardi tengah dekat dengan Fitri, sikap Ardi pada Fitri pun begitu ramah tidak
seperti biasanya. Namun saat itu aku belum menyadari dengan tanda tanya yang
ada pada status Ardi.
Satu minggu kemudian aku kembali teringat pada status Ardi, aku masih
bingung dengan itu dan aku berusaha untuk menemukan arti dari status itu.
Sampai aku tersadar, ternyata empat tanda tanya itu adalah aku (Maya), dan lima
tanda tanya itu tak lain adalah Fitri. Jadi maksud dari status itu, Ardi
bingung akan memilih aku atau Fitri. Aku bisa mengira itu Fitri karena mereka
yang semakin dekat, semua sudah terlihat jelas bahwa Ardi menyukai Fitri.
Sejak aku mengetahui hal itu, hubunganku dengan Ardi dan Fitri tidak
begitu baik, aku sedikit cuek pada Fitri. Tapi entahlah, Fitri malah
mengabaikanku begitu pun Ardi. Mereka semakin dekat dan hatiku semakin terluka
karena terbakar api cemburu.
Saat aku sedang bercanda dengan adik kelasku, aku berlari dan terus
berlari tanpa sadar aku berhenti di antara Ardi dan Fitri. Sesaat pikiranku
melayang, senyumku pun ikut memudar. Tetapi setelah aku sadar, aku pun berusaha
untuk tersenyum kembali agar aku bisa menutupi kesedihanku. Namun hati ini
tidak bisa aku bohongi lagi, aku menangis di balik senyum palsu. Itulah hal
yang tidak pernah aku inginkan terjadi.
Pada suatu hari aku menceritakan apa yang terjadi padaku pada seorang
kakak kelas yang sudah aku anggap seperti kakakku sediri. “Hei, hidup kamu
masih panjang, kamu jangan menyerah hanya karena patah hati. Percayalah, masih
banyak orang yang menyayangimu dengan tulus, termasuk aku”. Kalimat itu yang selalu
terlontar dari mulutnya, dan kalimat itulah yang membuat aku selalu tegar. Kak
Rama, dialah yang selalu menemaniku, Bahunya yang selalu siap menampung air
mataku dan dia selalu bisa menghiburku.
Kejadian yang menimpa diriku telah merubahku menjadi sosok yang pemurung,
hari-hariku selalu dipenuhi dengan kesedihan, tapi kak Rama selalu setia
menemaniku dan dengan sabar ia menghadapiku. Air mataku selalu menetes jika aku
mengingat sesosok Ardi.
“Pagi ini begitu cerah, begitu indah. Namun mengapa hatiku belum bisa
secerah dan seindah ini? Ardi.” ujarku dalam hati. Bibirku tersenyum, namun
tetesan air mata kembali membasahi pipiku. Aku mencoba menghapus air mataku
karena aku tidak ingin semua orang tahu aku sedang bersedih.
Pagi itu aku berjalan menuju sekolah ditemani semilir angin yang sejuk dan
senyuman sang mentari yang mungkin bisa membuat semua orang bersemangat, tapi
tidak untukku.
Sampai tiba di sekolah aku memeluk sahabatku dan aku menangis di
pelukannya. Entahlah, saat itu aku benar- benar tidak berdaya menahan sakitnya
patah hati.
“Maya, kamu kenapa?” dengan cemas ia bertanya.
“Ardi ka, Ardi” jawabku dengan terus menangis.
“Kenapa? Ada apa dengan Ardi?” ia semakin cemas.
“Teganya ia lakukan ini padaku. Jika memang dia tidak menyukaiku, jika
memang dia lebih memilih Fitri, mengapa dia seolah-olah memberikan keyakinan
akan kembali padaku? Apa yang sebenarnya ia inginkan?” ucapku.
“hmm, sudahlah. Aku yakin dia menyukaimu tapi mungkin dia juga menyukai
Fitri” jawabnya dengan nada meyakinkan.
“Lebih baik kamu hapus air matamu, tersenyumlah. Mana Maya yang selalu
tegar? Mana Maya yang selalu bisa sabar? Apa kamu mau berubah jadi Maya yang
lemah? Percayalah, masih ada orang yang jauh lebih menyayangimu.” Ucapnya
dengan senyuman yang semakin meyakinkanku untuk selalu tegar. Saat itu juga aku
melepaskan pelukanku dan menghapus air mataku, aku pun kembali tersenyum.
“Malam ini bintang bersinar begitu terang” ucapku dari balik jendela kamar.
Aku memandangi bintang yang seolah-olah mereka tersenyum padaku sampai aku
teringat pada Ardi, “Selamat malam.
Bintang-bintang yang bersinar malam ini tidak seindah pancaran senyummu J”. Kembali aku membaca pesan yang Ardi kirimkan dua tahun
yang lalu padaku.
Aku kembali memandangi bintang, dan sekarang aku teringat pada Fitri.
“Teman baikku, ia selalu bisa memahamiku, namun mengapa saat ini ia tidak bisa
memahamiku? Apa sekarang aku yang harus memahaminya? Mungkin iya.” Ujarku.
“Apakah aku masih pantas untuk menangisi mu yang hanya menjadikan aku
sebagai pelarian, kamu yang datang di saat membutuhkan? Tapi, jika aku
merelakanmu, apa aku bisa? Di, sampai kapanpun sayangku ini tidak akan pernah
habis untukmu.” Aku bertanya-tanya dalam hati. “Relakan Ardi, aku harus bisa!”
tekadku dalam hati.
Keesokkan harinya di waktu pulang sekolah. Aku pulang bersama Rika dan
teman yang lain, dan tepat di depanku Ardi pulang bersama Fitri. Dari belakang
aku tidak berhenti menyindir mereka karena aku sudah jengkel dengan sikap
mereka yang tidak pernah menghargaiku. Kemudian Ardi berjalan duluan dan Fitri
menoleh ke belakang, tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyum yang
sinis.
Setibanya di rumah aku berpikir kembali. Untuk apa aku selalu menyindir
mereka, untuk apa aku menampakkan rasa cemburuku? Toh, itu tidak membuat mereka
menjadi berjauhan. Kembali aku meyakinkan diriku untuk merelakan Ardi “May,
kamu harus bisa merelakan Ardi. Karena sampai kapanpun Ardi tidak akan pernah
kembali padamu. Tak ada gunanya kamu selalu menunggu Ardi.” Aku berbicara pada
diriku sendri di hadapan cermin.
Aku lelah dengan sandiwara itu dan akhirnya aku memutuskan untuk mengalah,
merelakan Ardi untuk Fitri.
Aku mengirimkan sebuah pesan pada mereka, “Maafkan aku sudah membuat keadaan menjadi seperti ini. Ini semua
salahku. Aku sayang kalian, teman baikku J” namun ternyata sama sekali tidak ada balasan dari
mereka.
Melihat kedekatan mereka aku selalu mencoba tegar, aku selalu mencoba
untuk tetap tersenyum. Dan ternyata sedikit demi sedikit aku bisa merelakan
Ardi, tapi aku merelakannya bukan untuk melupakannya. Karena sulit untuk
melupakan orang yang pernah mewarnai hidupku. Sesaat aku selalu teringat pada
masa laluku bersama Ardi, aku pikir cinta itu bersemi kembali untuk kebahagiaan
dan keindahan, tapi ternyata cinta itu tidak
seindah dulu. Dan aku sadar apa yang pernah kak Rama katakan “masih banyak orang yang menyayangimu dengan
tulus, termasuk aku.” Memang kak Rama yang bisa menyayangiku dengan tulus.
Lebih baik aku merelakan Ardi demi kebahagiaannya dan berusaha lebih
mempedulikan orang yang juga mempedulikanku.
Aku mengirimkan sebuah pesan pada semua temanku, “Terimakasih atas apa yang pernah kalian lakukan padaku. Kalian yang
buat aku tersenyum, tertawa, menangis, bahkan sakit hati, aku sangat
berterimakasih. Karena semua itu ada semata-mata hanya untuk membuat aku
semakin dewasa. Jangan pernah menyerah untuk menghadapi dunia ini. Love you,
friends J”